Sosialisasikan Pengembangan Blok Masela

Perusahaan minyak dan gas terbesar asal Jepang, Inpex Corporation butuh selagi sepanjang dua th. untuk menyosialisasikan berbagai kebijakan dan program pengembangan ladang Gas Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, agar diketahui dan dimengerti penduduk secara luas.

“Sosialisasi aktivitas pengembangan Ladang Gas Blok Masela Flow Meter Solar kepada penduduk dapat dijalankan sepanjang dua th. sampai memasuki selagi konstruksi pada 2022,” kata Vice President Corporate Services Inpex Masela, Ltd, Nico Muhyiddin di Ambon

Menurutnya, sosialisasi dijalankan tidak cuman kepada pemerintah provinsi dan Pemkab Kepulauan Tanimbar termasuk kepada berbagai grup keperluan termasuk penduduk di sejumlah desa yang terdampak bersama pengembangan megaproyek tersebut.

“Kami meminta bersama sosialisasi, seluruh komponen masyarakat, termasuk di desa-desa menyadari dan menyadari bersama menyadari dan pasti mengenai konsep kerja pengembangan Ladang Gas Blok Masela,” katanya.

Pihaknya juga, tandas Nico udah mempertimbangkan untuk laksanakan sosialisasi kepada pemerintah dan penduduk pada beberapa desa di kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), sebagai lokasi paling dekat dan terdampak proyek strategis nasional tersebut.

“Banyak masukan termasuk berasal dari Bupati MBD, Benjamin Noah yang inginkan sosialisasi dijalankan di kabupaten tersebut. Hal ini dapat dibicarakan bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk diputuskan bersama,” katanya.

Sosialisasi di Kepulauan Tanimbar yang merupakan lokasi utama pembangunan kilang darat gas alam cair (liquefied natural gas – LNG) dapat dijalankan di Saumlaki, pada Kamis (8/8), dan dilanjutkan bersama konsultasi publik ke penduduk di sejumlah desa di kabupaten tersebut sampai 16 Agustus 2019.

Niko menambahkan konsep pengembangan proyek LNG Abadi terdiri berasal dari beberapa layanan utama beserta potensi dampaknya yaitu pembangunan dan pengoperasian layanan sumur gas bawah laut (Subsea Umbilicals, Risers plus Flowlines-SURF) di lepas pantai Arafura.

Fasilitas Pengolahan (Floating Production, Storage plus Offloading Facilities – FPSO) di lepas pantai Arafura atau, pipa gas bawah laut (Gas Export Pipeline-GEP) berasal dari FPSO ke layanan penerima gas di darat (Gas Receiving Facility-GRF) serta layanan Kilang OLNG (Onshore Liquefied Natural Gas) di darat.

Nico termasuk menyebutkan gambaran umum skema proyek LNG Abadi Blok Masela yaitu pertama-tama, pengembangan dijalankan bersama membuat layanan sumur pemboran bawah laut dan layanan SURF yaitu menyatukan gas berasal dari sumur-sumur memproses gas alam di dasar laut pada kedalaman lebih kurang 600 mtr. berasal dari permukaan laut.

Dari sumur pemboran bawah laut, gas alam tersebut dapat disalurkan lewat layanan SURF ke layanan Pengolahan Lepas Pantai (FPSO) di mana dalam layanan ini, gas dan takaran kondensat dapat dipisahkan.
Selanjutnya gas kering sebagai hasil pembelahan tersebut dapat dialirkan ke Kilang LNG darat melalui pipa sepanjang lebih kurang 175 kilometer dan lewat palung sedalam 1.600 mtr. di bawah laut.

Dalam layanan kilang LNG berkapasitas 9,5 juta ton LNG per th. ini, gas dapat diolah lagi melalui pendinginan bersama suhu lebih kurang minus 160 derajat Celsius agar jadi gas alam cair atau LNG.

Ladang Abadi Blok Masela dapat menelan total cost pengembangan lapangan capai 18,5 miliar sampai 19,8 miliar dollar AS dan menyerap ribuan tenaga kerja baik selagi konstruksi maupun memproses “onstream”.

Pada selagi pembangunan dapat menyerap 30.000 tenaga kerja segera maupun pendukung dan selagi beroperasi dapat menyerap tenaga kerja pada 4.000 sampai 7.000 orang termasuk pembangunan industri petrokimia.

Pengembangan ladang Abadi Blok Masela merupakan investasi asing terbesar sejak 1968 dan simbol pembangunan di Indonesia Timur yang berskala global sesudah Freeport Indonesia.

Jumlah output gas alam di Lapangan Abadi sebesar 10,5 juta ton per tahun, termasuk lebih kurang 9,5 juta ton gas alam cair/LNG per tahun, dan memasok penyediaan gas untuk lokal melalui jalan pipa.

Untuk kondensatnya, capai lebih kurang 35.000 barel kondensat per hari. SKK sendiri menargetkan Blok Masela dapat jadi memproses pada 2027.

Inpex selagi ini terlibat di lebih kurang 70 proyek migas di lebih berasal dari 20 negara termasuk Indonesia, Australia, Kazakhstan dan Uni Emirat Arab. Di Indonesia, Inpex udah hadir sejak th. 1966 melalui Kontrak Kerja Sama (KKS) bersama Pemerintah Indonesia dibawah supervisi SKK SKK Migas.

Saat ini, Inpex berpartisipasi dalam 5 blok Migas yang termasuk aktivitas eksplorasi, pengembangan dan produksi, termasuk jadi operator di Blok Masela yang terletak di lepas pantai, yaitu Laut Arafura arah Barat Daya kota Saumlaki, KKT.