Solar Industri Rp6.400 Ternyata Lebih Murah dari Solar Bersubsidi

Sejumlah perusahaan pemegang izin usaha niaga lazim bahan bakar minyak (BBM) terasa turunkan harga menjual solar tak bersubsidi bagi industri (High Speed Diesel/HSD). Langkah ini dilaksanakan menyusul anjloknya harga menjual minyak dunia, yang menyentuh level US$ 40 per barel di dalam beberapa hari terakhir.

Salah satunya adalah PT AKR Corporindo Tbk, yang menjajakan solar industri di level Rp 6.400 per liter, lebih tidak mahal Rp 500 per liter dibandingkan bersama dengan harga solar dengan Flow Meter Solar subsidi yang dijual PT Pertamina (Persero) Rp 6.900 per liter.

“Mulai selasa tempo hari AKR memang sudah menjajakan solar tersedia yang di angka Rp 6.400 per liter, Rp 6.800 per liter sampai tersedia juga yang di Rp 8.000 per liter. Namun harga yang diberikan tadi bakal mengacu terhadap banyaknya volume yang dibeli,” ujar Sekretaris Perusahaan AKR Corporindo, Suresh Vembu kepada CNN Indonesia,
“Tapi terkecuali ditanya apakah sekarang tersedia yang lebih tidak mahal dari yang di SPBU, ya benar,” lanjutnya.

Suresh menjelaskan, lebih murahnya harga menjual solar AKR ketimbang solar subsidi di SPBU tak lepas dari turunnya harga minyak (gasoil) Singapura yang selama ini jadi acuan pembentukan harga solar perseroan.

Dalam beberapa hari terakhir, rerata harga minyak (gasoil) singapura atau mean of platts Singapore (MOPS) anjlok menyusul kejatuhan minyak dunia versi WTI maupun Brent.

Lantaran tetap mengacu formula MOPS, katanya jangan heran terkecuali harga menjual solar industri AKR lebih tidak mahal ketimbang solar subsidi yang dijual ke masyarakat.

“Dan ini adalah strategi dan policy (kebijakan) tiap-tiap perusahaan untuk mengambil alih pasar. Jadi aku pikir sah-sah saja terkecuali AKR lebih murah,” cetus Suresh.

Pada kesempatan berbeda, Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang mengaku tak heran terkecuali harga solar AKR lebih tidak mahal ketimbang harga solar yang dijual jajarannya di SPBU.

Bambang berkilah, tetap tingginya harga menjual solar subsidi di SPBU dikarenakan Pertamina diwajibkan laksanakan pencampuran biodiesel untuk tiap-tiap liter solar (fame), serta dikenakannya Pajak Penambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) terhadap tiap-tiap penjualan BBM.

“Inilah tantangan kita yang nyata di lapangan. Kami sukar bersaing terkecuali harga turun tetapi wajib menanggung stok (operasional) nasional, sampai bertanggung jawab atas security of supply ke seluruh Indonesia. Jujur saja harga Pertamina meski sudah memperoleh disc. yang terbesar, (solar industri) ya tetap Rp 8.000, per liter,” kata Ahmad Bambang.

Sementara pengamat daya dari Universitas Trisakti, Pri Agung berpendapat, fenomena lebih murahnya solar industri dibandingkan solar bersubsidi di dalam beberapa hari paling akhir disebabkan dikarenakan pemerintah sudah menginstruksikan Pertamina untuk menahan harga BBM di SPBU

Hal ini dilaksanakan menyusul kerugian Pertamina akibat tak konsistennya pemerintah menerapkan pencabutan subsidi terhadap produk Premium dan cuma mengimbuhkan subsidi Rp 1.000 per liter untuk produk solar.

“Jadi terkecuali sekarang harga minyak dunia turun sementara harga solar di SPBU tidak juga turun, aku lihat ini lebih dikarenakan upaya pemerintah untuk mengimbuhkan ruang Pertamina untuk menutupi selusih rugi penjualan BBM yang katanya mencapai Rp 12 triliun. Kalau diminta untuk menilai, mengerti ini menyalahi APBNP 2015,” kata Pri Agung.

Terkait upaya menahan harga menjual solar subsidi, Pri bilang sudah harusnya Kementerian Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan (BKP) turut campur di dalam mengawasi pencatatan menyoal keuntungan yang dikutip Pertamina.

Ini dilaksanakan lantaran perusahaan migas pelat merah selanjutnya terasa mengutip untungkan dari tiap-tiap liter BBM subsidi yang dijual ke masyarakat.

“Karena aku pikir yang mengerti hitung-hitungannya cuma ESDM selaku Kementerian teknis dan Pertamina. Jadi sedari awal kebijakan ya sudah salah,” mengerti Pri.