Dunia Bisnis

Uncategorized

Semakin Mahalnya Apartemen di Jakarta

Lembaga riset properti Jakarta Property Institute mencatat bahwa minat kalangan milenial untuk tinggal di hunian vertikal atau apartemen makin tinggi. Besarnya kebutuhan untuk punya hunian di pusat kota dinilai menjadi tidak benar pemicunya.

Berdasarkan survei Jakarta Property Institute (JPI) terhadap 300 orang responden yang tersebar di seluruh Jabodetabek, ditemukan peminat Apartemen casa grande residence di pusat kota Jakarta berasal dari kalangan milenial menggapai 54 persen “Berbeda bersama dengan generasi sebelumnya, ternyata generasi milenial lebih siap tinggal di hunian vertikal,

Adapun, berdasarkan hasil survei yang dikerjakan kepada milenial berasal dari rentang usia antara 19 th. hingga bersama dengan 31 tahun, terkandung lebih dari satu segi yang memilih permohonan untuk tinggal di apartemen yang ada di Jakarta, antara lain adalah lokasi daerah tinggal, biaya transportasi, dan selagi tempuh yang minim.

“Semakin jauh daerah tinggal berasal dari lokasi bekerja, makin orang ingin tinggal di apartemen. Karena jikalau makin jauh, makin mahal termasuk biaya transportasinya,” ujarnya.

Namun, terhadap sebenarnya tak seluruh milenial yang punya permohonan untuk tinggal di apartemen sudi langsung membeli atau menyewa apartemen. Pasalnya, harga apartemen yang terjangkau di Jakarta udah terlampau minim.

Adapun, berdasarkan hasil survei, 82 persen responden cuma punya kemampuan mencicil yang terbatas, yaitu di angka Rp3 juta per bulan. Lebih tepatnya, 54 persen ingin membayar Rp 1-3 juta dan 28 persen kemampuan membayarnya di bawah Rp1 juta per bulan

“Sayangnya, umumnya hunian vertikal yang ada di DKI Jakarta, baik dibangun oleh pemerintah maupun oleh swasta, tidak bisa dicicil bersama dengan rentang harga tersebut,” ungkapnya.

Sebagai perbandingan, pengembang swasta berusaha sediakan apartemen terjangkau contohnya di daerah Kemayoran dipatok Rp380 juta hingga Rp667 juta. Dengan harga menjual tersebut, nilai cicilannya bakal berada di kisaran Rp3,8 juta – Rp6,6 juta per bulan untuk tenor 15 tahun.

Besaran cicilan tersebut dinilai tetap di luar kemampuan berasal dari 82 persen responden milenial. Adapun, rusunami DP nol rupiah yang dibangun oleh Pemerintah DKI Jakarta yaitu Rusunami Klapa Village di Jakarta Timur dijual Rp184 juta – Rp300 juta bersama dengan cicilan kira-kira Rp2,4 juta per bulan untuk tenor 15 tahun.

“Penyediaan hunian terjangkau di kota sebetulnya perlu mendapat dukungan oleh kebijakan dan subsidi pemerintah” ujar Mulya.

Mulya memberi tambahan bahwa pembangunan rusunami layaknya di Klapa Village perlu diperbanyak dan lokasinya dibikin lebih dekat bersama dengan pusat kota. Untuk mewujudkannya, dia menunjukkan pemerintah bisa bersinergi bersama dengan swasta, gara-gara pembangunan hunian terjangkau tidak bisa seutuhnya disajikan oleh pihak swasta.