Ketentuan MUI soal Makam Tumpang Sesuai Syariat Islam

Kebijakan makam tumpang bukan suatu hal yang baru dilakukan. Biasanya, makam tumpang dikerjakan ketika tidak ada kembali lahan untuk menggali kuburan baru.

Namun bagaimana syariat Islam berkenaan makam tumpang? Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Munahar Muchtar mengatakan, makam tumpang tumpang tidak menabrak peraturan islam.

Bahkan makam tumpang merupakan hal biasa dikerjakan di Makkah. Hanya saja penerapan makam tumpang boleh dikerjakan dengan lebih dari satu syarat sesuai dengan hukum makam tumpang yang dikeluarkan MUI.Kalau makan tumpang, ulama menjelaskan boleh dengan syarat. Jadi terkecuali masih ada tempat (lahan) sebaiknya jangan, di sampingnya saja.

Munahar memberikan ada lebih dari satu syarat untuk jalankan makam tumpang.

Pertama kuburan yang dapat dikerjakan makam tumpang bukan kuburan nabi, rasul, wali yang dihargai masyarakat setempat.

Kedua terkecuali mendambakan jalankan makam tumpang, maka perlu memiliki alasan yang amat menyadari tidak benar satunya yaitu keterbatasan lahan baru untuk memicu kuburan.

Jika masih ada lahan yang mampu digunakan, maka dilarang jalankan memicu makam tumpang.

“Kalau lahannya masih ada itu tidak boleh, jikalau terkecuali ada kuburan yang lebih dekat diusahakan di sana dulu, tapi terkecuali udah tidak ada, dan ada di situ, atau ada tapi jauh dan tidak amat mungkin ya silahkan di situ.

Bagaimana terkecuali digali mayatnya masih ada? Kalau masih ada ya di pinggirkan dulu, ambil sebelahnya. Tapi terkecuali tinggal tulang belulang, disatuka pernah menjadi satu lalu sebelahnya diisi mayat yang baru,” sambung Munahar.

Tak cuma itu, Munahar termasuk menjelaskan terkecuali tanah yang dapat dibikin kuburan tumpang atau kijing makam marmer bukan tanah yang diwakafkan.

Namun orang yang diamanahkan mampu mengatur siapa yang mampu memicu makam tumpang sesuai syarat yang dikeluarkan.

“Misalnya ya tanah yang diwakafkan si pemilik yang mewakafkan tadi. Jadi dia wakafkan tanah sekian, bermakna untuk keluarganya. Tapi terkecuali tidak berlaku tanah keluarga tapi pemakaman lazim berasal dari pemerintah, pemerintah memiliki kebijakan siapa yang dimakamkan,” katanya.

Aturan makam tumpang termasuk tidak terbentur ada bekas makam perempuan yang diisi dengan mayat baru berjenis kelamin laki-laki. Syaratnya, mayat perlu udah lebur menjadi tanah.

“Jadi makam tumpang itu biasa, di Makkah pun termasuk jalankan asalkan tidak ada tempat lagi. Kalau masih diusahakan jangan dikerjakan dan jangan memicu makam tumpang yang berlainan agama